Telegram
Percakapan pertama kita bahkan bukan tentang perasaan.
Kita cuma sama-sama bingung mengurus administrasi magang.
Kalau saja waktu itu aku memilih diam, mungkin cerita ini akan berbeda.
Untungnya, aku membalas pesanmu.
Hari ini usiamu bertambah satu tahun.
Aku sempat berpikir untuk memberimu hadiah yang biasa. Tapi rasanya, tidak ada hadiah yang bisa menceritakan perjalanan kita sebaik cerita itu sendiri.
Jadi... kalau kamu berkenan, ada satu cerita yang ingin aku ceritakan lagi.
Bukan karena kamu melupakannya.
Tapi karena menurutku, beberapa cerita memang layak untuk dikenang berkali-kali.
Kalau ada yang bertanya di mana semuanya dimulai, jawabannya mungkin sederhana.
Bandung.
Kita datang ke kota itu dengan alasan yang sama.
Magang. Belajar. Menjadi frontend engineer yang lebih baik.
Waktu itu, kita hanyalah dua orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada firasat.
Tidak ada yang tahu kalau beberapa bulan setelahnya, salah satu keputusan terbaik dalam hidupku adalah tetap menghubungimu setelah kita pulang.
Kalau dipikir-pikir sekarang... Lucu juga ya.
Ternyata lima bulan bisa mengubah banyak hal.
Percakapan pertama kita bahkan bukan tentang perasaan.
Kita cuma sama-sama bingung mengurus administrasi magang.
Kalau saja waktu itu aku memilih diam, mungkin cerita ini akan berbeda.
Untungnya, aku membalas pesanmu.
Selama beberapa bulan di GITS, kita bekerja, belajar, berdiskusi, dan sesekali bercanda.
Saat itu aku memang sudah menyukaimu.
Tapi aku juga sadar bahwa tidak semua perasaan harus buru-buru diungkapkan.
Jadi aku memilih menikmati setiap percakapan yang kita punya.
Masih ingat acara di villa?
Saat semua orang saling bertukar pesan secara anonim.
Aku meninggalkan satu pesan kecil.
Let me stand by you.
Setelah Bandung, kita pulang ke arah yang berbeda.
Aku menuju Jombang.
Kamu menuju Medan, lalu melanjutkan perjalananmu ke Aceh.
Waktu itu aku sempat bertanya-tanya... Apakah setelah ini kita akan tetap saling berbicara?
Ternyata jawabannya adalah iya.
Dan sampai hari ini, aku masih sangat bersyukur karena itu.
Kadang aku masih heran.
Kita hanya berada di kota yang sama selama sekitar lima bulan.
Tapi setelah itu, kita justru menghabiskan waktu yang jauh lebih lama dengan dipisahkan oleh jarak.
Sudah tiga tahun.
Belum pernah bertemu lagi.
Tapi entah kenapa, rasanya kamu tetap selalu dekat.
Mungkin karena rumah tidak selalu berarti tempat.
Kadang, rumah adalah seseorang yang selalu bisa kita tuju, meski hanya lewat sebuah panggilan atau pesan sederhana.
Terima kasih sudah tetap memilih berjalan bersamaku sampai hari ini.
Setelah magang berakhir, kita kembali ke tempat masing-masing. Bandung adalah tempat awal. Jombang adalah tempat aku pulang. Medan dan Aceh adalah perjalananmu selanjutnya. Jaraknya jauh. Tapi ternyata, jarak tidak berarti banyak kalau kedua orang itu memang memilih untuk tetap saling menjaga.
Aku bersyukur karena kita bertemu.
Aku bersyukur karena kamu membalas pesanku waktu itu.
Aku bersyukur karena kita tidak berhenti saling menghubungi setelah Bandung.
Aku bersyukur karena di setiap hari yang sulit, aku selalu tahu ada seseorang yang bisa kuhubungi.
Aku bersyukur karena kamu tetap menjadi dirimu sendiri.
Lembut. Tenang. Baik hati.
Dan selalu membuatku merasa diterima apa adanya.
Lima bulan terasa sebentar. Tapi cukup untuk mengenal seseorang dengan cara yang sulit dijelaskan.
Kita memang tidak banyak berfoto. Tapi mungkin justru karena itu, setiap fotonya terasa lebih berharga.
Kenangan tidak diukur dari seberapa banyak fotonya.
Nurul,
Terima kasih.
Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari hidupku selama beberapa tahun terakhir.
Terima kasih karena sudah sabar menghadapi segala kekuranganku.
Terima kasih karena tetap percaya pada hubungan yang sering kali hanya ditemani layar, pesan, dan panggilan.
Aku tahu hubungan kita belum sempurna.
Masih ada banyak rencana yang belum terwujud.
Masih ada banyak tempat yang belum sempat kita datangi bersama.
Masih ada banyak foto yang belum sempat kita ambil.
Tapi mungkin justru itu yang membuatku semakin bersemangat menjalani hari-hari ke depan.
Karena masih ada begitu banyak cerita yang belum kita tulis.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun lagi.
Tapi aku tahu satu hal.
Aku masih ingin berjalan bersamamu.
Seperti pesan kecil yang pernah kutinggalkan di villa dulu.
Let me stand by you.
Dan kalau kamu mengizinkan...
Aku ingin terus melakukannya.
Semoga di usia yang baru ini kamu selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, dan kemudahan dalam setiap langkahmu.
Semoga semua impian yang sedang kamu perjuangkan perlahan menjadi kenyataan.
Semoga kamu tidak pernah kehilangan senyum yang selama ini selalu berhasil membuat hariku terasa lebih baik.
Dan semoga, suatu hari nanti, kita tidak lagi hanya mengenang Bandung.
Melainkan mulai membuat kenangan-kenangan baru bersama.
Selamat ulang tahun.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari cerita yang paling indah dalam hidupku sejauh ini.
Sampai bertemu lagi.
Semoga tidak lama lagi. 🤍